Favicon

Jumat, 23 Oktober 2015

Cintaku Kandas Di Penghujung Tahun 2014


Apalah arti luka yang kupunya, Aku hanya ingin melihatmu bahagia
(Vick Cipoetra Mathan)



“jika kamu memang mencintaiku seperti yang kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya, kenapa kamu tidak melamarku sebelumnya?” sambil tertunduk lesu, aku hanya bisa bilang kepadanya : “ Aku belum siap untuk menikahimu”

Goncangan motor yang ku naiki membangunkanku dari segala kehayalanku tepat di depan pintu gerbang sekolah SMK Mathla’ul Anwar cibuah, ku bergegas kedepan mesjid untuk beristirahat sambil mendengarkan musik “Tum Hi Ho” (keberadaanku tanpamu) .

kita bertemu, masing-masing terdiam seribu bahasa. Namun hati telah tersenyum berbicara ada sesuatu yang gembira” saat-saat itulah yang tak pernah ku lupakan.

Ku mandang suara adzan di telingaku, dan ku bergegas mengambil air wudhu untuk shalat dzuhur berjamaah dengan siswa SMK Mathla’ul Anwar Cibuah, setelah selesai shalat, tugaspun menungguku dimana-mana. Ku melangkah ke depan, berdiri tegak dan berfikir kemanakah aku berjalan untuk mengawali tugasku hari ini, lalu ku berjalan kearah Rangkasbitung menuju SMKN 1 Rangkasbitung  yang bertempat di Komdik (Komplek Pendidikan) untuk bertemu dengan Operator Sekolah Bpk. Tatang Johadi. Setelah ku bertemu dengan Pak Tatang Johadi selaku OPS, tugasku mulai ku kerjakan, namun setelah ku kerjakan dan bertanya, bertanya dan bertanya tentang pekerjaanku, hanya satu pekerjaan yang bermasalah, dan masalah itu harus diselesaikan ke Dinas,.
walaaah kang, ini mah harus ke dinas, nanti operator dinas akan mereset NPSN yang dauble “ seru  Pa Tatang Johadi

Dinas kan aga lumayan jauh, apa mungkin keburu,? Sekarangkan sudah jam 14:30, sedangkan Dinas pulang jam 15:00” Tanyaku dalam hati**

Akupun berputar arah untuk kembali pulang, disaat kuberjalan di atas aspal dan begitu panas teriknya matahari, sehingga melelehkan cairan dalam tubuhku dan mengalir dari ujung kepala ke ujung kaki.

“Toooot, Tooooooot, Toooooooot”

Ku tersentak oleh sebuah kendaraan yang begitu tinggi (mobil Pertamina) dipermukaan kendaraan yang ku naiki, dan ku tergiring ke samping sehingga terdiamnya kendaraan yang ku naiki.

“Astagfirullah,” mulutku berkata dan mengusap dadaku perlahan-lahan sambil mengatakan “sakmad doangan nyah ie mobil”

Haripun semakin sore, ku lanjutkan perjalanan pulangku, tiba-tiba masalahpun muncul kembali dari arah belakangku,

“tiiiiid, tidtiiiiiiiiiiid” terdengar suara telakson motor dibelakangku, ketika ku menengok ke belakang, tiba-tiba roda depan motor ku tergelincir ketika naik ke aspal, dan hampir saja ku terjatuh dari motor. Haripun semakin gelap, dan cuacapun tak bersahabat, sampainya ku di rumah, ku ketuk pintu 3x dari arah depan rumahku.

“Tuk, Tuk, Tuuk, assalamua’aikum” tak ada jawaban satu orangpun di dalam rumah
10 menit ku menunggu, datanglah Bibiku menghampiriku dan berkata,

“Vick, Ibu dan kakamu menengok teteh ke sajira, adik-adikmu semua pada main”
“lantas dirumah ada siapa Bii” seruku bertanya kepada Bibi..
“dirumah tak ada siapa-siapa Vick” Bibiku menjawab


“ya udah kamu tunggu di rumah bibi aja dulu, sebelum datang ibumu” seru bibiku

Terpaksa ku harus menunggu di rumah Bibiku, setibanya di kamar bibiku, terdengar suara dan bergetar pada kantong celanaku, sepertinya Hpku bunyi, bergegas ku ambil Hpku di kantong celanaku, mungkin ini ibu sms atau kakaku. Ketika ku buka sms ini, ternyata bukan dari ibuku, Namun ini sms dari kekasihku, setelah ku baca sms dari kekasihku, perasaan dan jiwaku terasa lemah yang tak berdaya ketika baca sms itu.
Ragapun semakin lemah dan lemah.
Dan ku balas sms darinya, ku kira ini hanyalah lelucon saja, yang seperti kejadian-kejadian yang dulu kami alaminya.

“Ya Allah apa maksud sms ini.?” Tanyaku pada diri ini.

setelah kami cekcok di depan Hp, kamipun tak ada yang mau mengalah, sehingga dia tetap ingin berpisah denganku, ku bertanya pada dirinya,
“kenapa kamu ingin pisah denganku, coba kamu pikirkan lagi”

”aku tidak mau lama-lama dalam hubungan ini, jika aku terus menerus menunggumu dalam 5 tahun aku tunggu, aku ingin kamu segera melamarku” jawaban darinya

Akupun terdiam dan bernapas dalam-dalam, dan  ku hembuskan napasku pelan-pelan sambil berkata..

“Aku belum siap untuk menikah” dadaku terasa DAG DIG DUG, ketika mendengar pertanyaan itu.

Sesudah kami cekcok dalam sms, diapun ahirnya minta PUTUS dari ku, sungguh aku katakana Berat meninggalkan kenangan-kenangan yang dulu kita lewati selama 1 tahun ini bersamamu. Tapi mau bagaimana lagi, keputusanmu sudah terikat pada dirimu, sehingga diriku hanya bisa menerima kenyataan saja.

Terdengar suara adzan, yang mengingatkan untuk shalat asar, sampai berhentinya suara adzan, aku tetap di depan Hp dan menunggu jawaban darinya, sehingga tak ada jawaban lagi darinya. Jam 16:45 ku pulang kerumah, dan banyak orang di rumahku yang baru pada datang dari Kp. Gedong Sajira, tibanyaku di rumah, yang pertama kali bertanya pada ku adalah orang tuaku,

“kamu kenapa vick”     Tanya ibu padaku
“aku ngga kenapa-napa bu” jawabku singkat,
“ya sudah kalau ngga kenapa-napa, Makan dulu sanah” jawab ibu ku
“masih kenyang bu”  dalam hatiku berkata “sebenarnya aku lapar bu tapi aku lagi ngga enak makan”  jawabku dengan nada lemas sambil masuk kamar, dan ku tutup pintu dengan keras, “Bruuuuug”  kakaku manghampiri kamarku, dan perhatian bertanya padaku.
“vick kamu ada masalah apa sebenarnya” dengan nada perhatiannya sama aku

Aku tak bisa bicara apa-apa dengan keluargaku, dengan kondisiku seperti ini, aku hanya bisa merenung, merenung, dan merenung. Hanya memikirkan satu masalah, yaitu “PERASAAN”

“torok tok tok tok, Dug, Dug, Dug” ku kira itu suara pintu, ketika ku menoleh keluar di jendela, ternyata itu suara Bedug mesjid dan melihat ke atas langit, mataharipun sudah mulai tenggelam, menandakan waktunya Magrib.

Malampun tiba,

“Vick yu kita makan” Tanya ibuku
“iya bu duluan aja” jawabku dengan lemas, sambil jalan menuju lemariku untuk mengambil ayat suci Al-Quran

Aku tak mau keluar dari kamarku, Aku Tak Bisa :’( dalam hatiku berbicara.
Tibalah temanku masuk kamarku, sebetulnya kamar ini kamarku, namun selama aku tinggal di sekolah, kamarku, aku minta sama temanku ditempati dan di jaga, ketika aku pulang kerumah, pasti aku langsung kekamar mengeram diri dikamar.
           
Temanku ini adalah Guru Ngaji di Ponpes Mulia Hai Insani, Ponpes ini milik Bupati Lebak H.Mulyadi Jayabaya,  namun sekarang kota lebak di pimpin oleh Bupati Lebak yang terpilih yaitu Hj. Iti Octavia Jayabaya merupakan putri dari H.Mulyadi Jayabaya.
           
Ketika Pengasuh / pengurus Ponpes Mulia Hati Insani, keluar dari Ponpes yang dulu ia Pimpin, setelah terpilihnya Bupati Lebak Hj. Iti Oktavia Jayabaya, Pengasuh Ponpes itu keluar, dan dengar-dengar katanya Ust. Deden selaku Pengasuh di Ponpes MHI, membuka Ponpes Modern di daerah Sajira, dan sampai sekarang berjalan.

            Temaku Ust. Baim selaku Ketua Ponpes Laki-laki, ikut keluar ketika dia tak pernah diperhatikan oleh Pengurus baru yang sekarang ini, ketika dirubahnya Konsep-konsep / peraturan tata tertib ponpes, para santri disanapun sudah mulai tak nyaman, hingga adiku Ajiyani pun keluar dari ponpes itu,
           
Sedikit ku tau tentang ponpes itu dari cerita temanku Ust. Baim, dan sekarang temanku, tinggal di rumahku dan menempati kamarku yang dulu aku tempati hingga sekarang ini, banyak pengalaman yang ku petik dari kehidupan temanku, ku tak sadari kehidupan dia sama précis dengan kehidupan di keluargaku, tak ku sangka dia begitu dekat dengan keluargaku, dan banyak membatu keluargaku.

Sedikit demi sedikit, ku melangkah ke hadapan temanku, ku membisikinya dengan nada perlahan-lahan ditelinganya, ku berkata..

“tadz bolehkah aku minta waktumu sebentar” tanyaku membisikinya dengan alunan nada yang santai.
“boleh, silahkan ada apa Vick” jawab temanku, sehingga ayat suci Al-Quran pun ia tutup sebentar.

Ku telah berdosa mengganggu temanku yang biasa ku panggil Ustadz,  sedang asik-asiknya membaca ayat suci Al-Qur’an.
“Dari mana aku akan mulai menceritakan tentang aku dan cw itu” dalam hatiku bertanya

            Akupun tak mampu untuk ungkapkan semua perasaanku yang selama ini aku pendam, tapi aku selalu mencoba untuk mengungkapkannya, ku menarik napas perlahan-lahan, dan mengeluarkannya dengan sangat cepat, sambil berkataaa “Huuuuuuuh”

            Tad gimana rasanya ente kalau diputusin pacar..? tanyaku pada temanku “baim” walaah kenapa kau tanyakan itu vik, sebenarnya ente mau cerita apa dengan ane vik.? Aku merasa malu dan gugup untuk menceritakan hal ini pada dia “Baim” tetapi aku selalu coba untuk menceritakannya perlahan lahan.
Tad “baim” ente taukan sama cewe ane..? tanyaku kembali
Iyaaa ane tau, ada apa dengan cewe kamu vik.? Jawab temanku dan memberikan pertanyaan pada ku.
           
            Dia tad “baim” …………… iya kenapa dengan dia.?
Dia “ceweku” minta putus dengan ane tad “baim”. Menjawab dengan lemas
loooh ko bisaaa, kenapa alasannya dia “cewe” minta putus darimu vik,? Temanku “baim” menjawab dengan nada yang keres
panjang ceritanya tad “baim” ceweku memberikan alasa yang singkat, dia “cewe” ingin hubungannya tak mau lama lama dengan ku, karna permintaan orang tuannya untuk tak lama lama berpacaran, dan keinginan orang tuannya agar kami secepatnya menikah.
tapi aku belum siap untuk menikah dengan keadaan usiaku yang masih muda. Dan akupun menolak dengan keinginan orang tuannya, lalu kamipun lepas kontek (komunikasi).

            Selama ku tak kontekan dengannya, aku dapat kabar dari tetehnya “ceweku” Vik kenapa dengan hubungan kalian, ada masalah apa terhadap kalian berdua.? Tanya teteh “ceweku” pada ku
Tanya aja sama orang tua teteh dan sama dia “ceweku”. Jabawku dengan kesal.
Kamu udahan dengan dia “cewemu”? saya liat kemaren malam dia “cewemu” jalan sama cowo lain, saya ga tau itu siapa. Ada apa sebenarnya?
Nanti juga teteh akan tau sebabnya kenapa.! Jawabku dengan lemas
Hmmm.. oia vik katanya dia “cewemu” mau pulang kerumah besok jam 04.00 pagi, sekitar jam 07.00 dia “cewemu” datang dirumah, saya harap kamu kerumah ya, soalnya dia berangkat dengan cowo itu. Tetehnya menyuruhku untuk datang kerumah jam 07.00 pagi.
Ok teh makasih infonya. Jawabku dengan singkat.

            Setibanya aku dirumah ceweku, ketika ku ketuk pintu rumahnya, tak ada satu orangpun yang menjawab dan tak ada yang membukakan pintu untuk kedatangan ku, setelah ku tunggu beberapa menit, datanglah orang tuannya “ceweku” di arah belakangku,.

eeeh ovik, ada apa viik? Tanya ibunya “ceweku” pada ku
Ga ada apa apa bu, boleh saya masuk bu.? Jawabku seolah olah aku tak mau ngobrol di luar.
ooh iya silangkah..! ibunya menyilahkan aku untuk masuk kedalam rumah.

            Setelahku ngobrol panjang dengan ibunya, tiba tiba terdengan suara motor di arah depan rumah. Padahal aku sudah tau bahwa mereka akan tiba di rumah. Ibu “ceweku” terdiam dan perlahan lahan mengeluarkan kata kata . “ko dia “ceweku” pulang hari ini, emang dia libur?
Mereka berduapun masuk kedalam rumah, ketika mereka masuk ke dalam rumah dan yang paling aku perhatiin muka ceweku yang kelihatan malu melihat aku ada dirumahnya.
Ko kamu ada disini? Ceweku bertanya dengan muka yang merah dan nada yang gugup
Kebetulan aku mampir kerumahmu, dan tak sengaja aku ingin sekali kerumahmu, ga tau kenapa..! padahal aku sudah tau maksudku.

            Dengan siapa kamu kesini.? Tanyaku pada dirinya “ceweku” dengan nada yang lembut sambil arahkan muka keatas
Sama temanku,! kenapa.? Jawab ceweku sambil bertanya.
Ga kenapa napa, suruh sini dong masuk jangan diluar. Jawabku sambil menyuruh cowonya untuk masuk.
Ketika dia “cowo itu” masuk dan aku bertanya tanya pada dirinya tentang kehidupan dirinya. Dan setelah ku fikir fikir dia lebih ingin serius untuk menikahi ceweku. Aku tak bias berbuat apa apa, dengan apa yang sudah dia “cowo itu” katakana pada diriku, sedangkan aku belum siap untuk menikah.
Dan tak tau kenapa orang tuanya bilang sama ku, bahwa orang tuanya juga lebih setuju pada laki laki itu untuk segera menikahi putrinya.

Vikk maaf jika ini membuat ovik merasa tidak enak di dengarr, dan bapa mohon maaf, yang sebesar besarnya, karna ini kemauan bapa untuk menikahkan putri bapa.
Aku tak bias menjawab apa apa jika sudah ada keputusan orang tuannya, aku hanya bias jawab “iya pa, jika itu kemauan bapa, dan demi kebahagiaan putri bapa, maka laksanakanlah. Yang penting mereka bahagia. Karena saya masih ingin mengejar karir saya, dan saya pun belum ada niat untuk menikah karna saya masih muda, dan Saya hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk mereka”

            Haripun semakin siang, dan aku pun sudah mulai tak nyaman didalam rumah, rasanya ingin terbang melayang diluar sanah. Ketika ku bertanya pada cowo itu…
Kamu sudah siap untuk menikah bang.? Tanyaku pada cowo temen ceweku (katanya)
Sudah, saya sudah menyiapkan untuk kedepannya.! Jawaban dari pacar ceweku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dari pacar ceweku, hehe :D lalu ku bertanya pada diriku sendiri ”looh ko bisa ya, mereka kan baru kenal 1 hari, ko dia berani bilang bahwa dia ingin menikahi ceweku dalam waktu 1 bulan. Orang toh saya juga belum bisa menentukan akan seperti apa saya kedepannya, ko dia sudah tau sih kedepannya dia akan seperti apa.???? Jadi bingung aku.. ya sudah laah, ini kan kemauan orang tuanya.

            Hari itupun aku pamitan untuk pulang kerumah, karena hari makin siang perutpun makin bersiul siul yang tak bisa di tahan laparnya.  
Ku putuskan untuk berhenti di tempat makan yang tak jauh dari arah rumahnya, setelah ku selesai makan, entah kenapa aku lupa membawa dompet ku, dan terpaksa aku harus menunda handphonku untuk jaminan makanku. Dan ketika ku bilang pada ibu ibu yang jualan nasi itu, bahwa aku tak membawa uang.
Bu maaf, saya lupa ga bawa uang, saya kira saya itu bawa uang, tapi uang saya ketinggalan, tapi ibu jangan hawatir, saya bawa HP ko untuk jaminan uang makan saya, nanti saya kesini lagi bu.

Dan ibu penjual nasi itu pun menjawab “sudah a, ga apa apa, ga usah di pikirin dan ga usah di bayar juga, jika si aa ga bawa uang maka inilah pengganti uang si aa”
Subhanallah, ternyata masih ada orang sebaik ibu penjual nasi yang harganya lebih murah dari pada penjual nasi di tempat aku kerja.
Bu terimakasih sudah memberikan nasi geratisnya pada saya, semoga kebaikian ibu akan terbalaskan oleh Allah SWT.” Amiin…!  Sambil ku berjalan dan menuju pulang..

            Itulah kenapa sebabnya ane putus dengan dia “ceweku” tad “baim”. Padahal ane juga berharap bersama dia “ceweku”, tapii ya mau bagaimana lagii mungkin sudah takdirnya kami akan berpisah pada waktu itu.
Ooh itu toh alasannya kenapa ente putusan dengan pacar ente..! jawab temanku sambil senyum senyum.
Sudah viik ga usah dipikirin, itu tanndanya Allah masih sayang pada dirimu untuk terus menggapai cita citamu sehingga kamu dipisahkan dengannya agar kamu focus akan tujuanmu (cita citamu) dan tak menggangu perjalananmu.
Iya tad “baim” makasih atas waktunya ente sudah memberikan solusi pada ku, untuk tetap tegar. Jawabku sambil mengeluarkan mata air dipipiku. :’(


Makasiih teman engkau selalu hadir dalam kesedihan dan kesenangan yang ku alami saat ini, dan engkau pula yang selalu memberikan solusi untuk hidupku, sehingga aku termotivasi untuk selalu menjadi orang tegar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar