Watak Novel
Contoh
dalam penggambaran pikiran tokoh
1. pada suatu siang hari Andi melamun dan memikirkan tentang pekerjaaan rumah yang tiada habisnya, andi berkeinginan untuk bertanya namun dia masih berfikir bahwa dirinya lebih pandai dari teman temannya di kelas.
Contoh dalam penggambaran melalui tokoh lain
2. kenapa kamu don? dari tadi ngalamun terus, Aku baru sedih nih? Sedih kenapa, karena kakaku barusaja Di PHK padahal kakak ku kan satu satunya tulang punggung keluarga, bagaimana kalo kamu nasehatin untuk mencari pekerjaan lain.
Contoh melalui Peristiwa langsung
3. Pagi pagi jojo pergi ke sekolah namun ibunya dengan keras melarang jojo untuk bersekolah, karena jojo belum membantu ibunya untuk mencari kayubakar di hutan.
1. pada suatu siang hari Andi melamun dan memikirkan tentang pekerjaaan rumah yang tiada habisnya, andi berkeinginan untuk bertanya namun dia masih berfikir bahwa dirinya lebih pandai dari teman temannya di kelas.
Contoh dalam penggambaran melalui tokoh lain
2. kenapa kamu don? dari tadi ngalamun terus, Aku baru sedih nih? Sedih kenapa, karena kakaku barusaja Di PHK padahal kakak ku kan satu satunya tulang punggung keluarga, bagaimana kalo kamu nasehatin untuk mencari pekerjaan lain.
Contoh melalui Peristiwa langsung
3. Pagi pagi jojo pergi ke sekolah namun ibunya dengan keras melarang jojo untuk bersekolah, karena jojo belum membantu ibunya untuk mencari kayubakar di hutan.
Pengarang dalam menyampaikan karakter
tokoh dalam cerita menempuh jalan yang berbeda-beda.
Penggambaran
perwatakkan secara tidak langsung biasanya dilakukan pengarang dengan
beberapa cara, yaitu melalui pikiran tokoh, dialog antartokoh, tingkah laku
atau tindakan tokoh, lingkungan sekitar tokoh, dan tanggapan dari tokoh lain.
Melalui pikiran-pikiran tokoh. Penggambaran perwatakkan
dengan cara ini yaitu pengarang dalam menyampaikan karakter tokoh disampaikan
melalui pikiran tokoh itu sendiri. Hal-hal yang terjadi dalam pikiran tokoh
terkadang dapat menunjukkan bagaimana karakter tokoh tersebut. Perhatikan
contoh berikut.
Dialog antartokoh, dalam berdialog atau bercakap-cakap
terkadang kita dapat mengetahui watak orang yang berbicara tersebut. Dari apa
yang diucapkan secara langsung ataupun yang tersirat dalam perkataan-perkataan
tokoh, kita dapat mengetahui bagaimana watak seseorang. Jadi, pengarang dalam
menggambarkan perwatakkan tokoh-tokoh dilakukan dengan perantara dialog yang
dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita.
Melalui
tingkah laku atau tindakkan tokoh, yaitu penggambaran perwatakkan tokoh
yang dilakukan dengan penggambaran perbuatan yang dilakukan oleh tokoh. Sebagai
contoh, jika seorang tokoh digambarkan sedang mengamuk, merampok, atau memukuli
orang, tentu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang tersebut memiliki
watak keras, jahat, dan kejam. Begitulah penggambaran watak tokoh jenis ini
dilakukan.
Melalui tanggapan tokoh lain, yaitu penggambaran
watak seorang tokoh yang dilakukan oleh pengarang melalui perantara yaitu
komentar atau tanggapan tokoh lain terhadap seorang tokoh.
Lingkungan
sekitar tokoh. Tidak dapat disangkal jika lingkungan tempat tinggal /
keberadaan seseorang dapat menggambarkan perilaku atau karakter seseorang.
Dengan dasar tersebut, pengarang juga secara implisit dapat menggunakan media
lingkungan sebagai penyampaian watak dari tokoh.
Tokoh dan Karakter (Watak)
Tokoh adalah para pelaku yang
terdapat dalam sebuah fiksi, sedangkan karakter merujuk pada
istilah watak yang berarti kondisi jiwa atau sifat
dari tokoh tersebut. Jadi, tokoh adalah pelaku yang
berada dalam karya fiksi, sedangkan karakter atau watak adalah
perilaku yang mengisi diri tokoh tersebut
Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
Tokoh dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
Dikaji dari keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi dibedakan
menjadi 2, yaitu Tokoh Sentral (Utama) dan Tokoh Tambahan
(Bawahan).
Tokoh Utama atau Tokoh Sentral (ada
pula yang menyebutnya Tokoh Kompleks,Tokoh Dinamis, Tokoh Bulat, Tokoh
Berkembang) yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh
ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.
Tokoh Utama ini mengambil bagian terbesar
dalam peristiwa cerita, dengan kata lain tokoh utama merupakan tokoh yang
paling banyak diceritakan. Volume kemunculan tokoh utama lebih banyak dibanding
tokoh lain, sehingga tokoh utama biasanya memegang peranan penting dalam setiap
peristiwa yang diceritakan.
Tokoh Tambahan atau Tokoh bawahan (ada
juga yang menyebutnya Tokoh Minor, Tokoh Statis, Tokoh Datar, Tokoh
Sederhana) ini diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja.
Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak
berubah sama sekali.
Tokoh Bawahan ini dimunculkan sekali atau
beberapa kali. Tokoh-tokoh ini mendukung atau membantu tokoh sentral.
Teknik Penggambaran Karakter Tokoh
Berikut
macam-macam penggambaran tokoh beserta contohnya.
1. Penggambaran
langsung oleh penjelasan pengarang
Meskipun
Pak Budi memiliki sawah hektaran, rumah bertingkat dan berhalaman luas, puluhan
mobil dan perusahaan di berbagai tempat , tetapi ia sangat pelit.
Ketika ada pembangunan mesjid di komplek rumahnya tak sedikitpun ia
memberikan sumbangan. Apalagi para tetangga yang meminta pinjaman tak pernah ia
beri. (Watak Pak Budi : Pelit)
2. Penggambaran
melalui fisik dan perilaku tokoh
Sekilas Mira melihat pengemis berkaki
buntung di depan toko. Segera ia turun dari mobilnya dan menghampiri pengemis
tersebut. Dia tersenyum dan membuka dompet yang berada dalam tasnya.
Diambilkannya uang seratus ribuan lalu ia berikan pada pengemis itu. (Watak
Mira : Baik hati dan suka menolong)
3. Penggambaran
melalui lingkungan kehidupan tokoh
Terdapat sebuah mushola meski rumah Pak Sukaryo tidak terlalu
luas. Alat sholat lengkap berada di dalamnya. Di beberapa ruangan terhiasi
berbagai kaligrafi arab. (Watak Pak Sukaryo : Mementingkan agama)
4. Penggambaran
melalui tata bahasa tokoh
“Eh, maafkan aku,”ucap Mira. “Maaf maaf, kalau jalan pake mata
jangan maen tabrak orang. Lihat buku dan Ipad milikku jatuh. Bagaimana kalau
rusak ? mau tanggung jawab ?” bentak Indri. “Tapi aku tidak sengaja.”(Watak
Indri : temperamen/mudah emosi, watak Mira : ceroboh )
5.
Penggambaran melalui jalan pikiran tokoh
Tak seperti orang kaya lain, Pak Sukaryo sadar tidak semua orang
seberuntung dia dan keluarganya. Setelah berpikir matang, Pak Sukaryo
memutuskan untuk memberikan setengah harta kekayaanya pada beberapa panti
asuhan di kotanya. (Watak Pak Sukaryo : Baik hati )
6. Penggambaran
melalui tokoh lain
Setelah Viky berhasil menyelesaikan soal matematika di papan
tulis, semua bertepuk tangan tak terkecuali Robi. “VIk, kamu pintar sekali ”
Puji Robi. Viky hanya tersenyum dan kembali ke mejanya. (Watak Viky : pintar
dan murah senyum, watak Robi : pemuji )
Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara"
sebagai berikut.
1. Menikahkan anak secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua)
Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak
Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu)
Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
4. Kebiasaan minum dan berjudi
Sutan Baringin ayah Mariamin menjadi bangkrut karena kebiasaan berjudi dan minum.
Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
1. Menikahkan anak secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua)
Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak
Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu)
Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
4. Kebiasaan minum dan berjudi
Sutan Baringin ayah Mariamin menjadi bangkrut karena kebiasaan berjudi dan minum.
Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
1.
Anak sangat berbakti kepada orang tuanya
Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
2. Isteri sangat taat kepada suaminya
Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
2. Isteri sangat taat kepada suaminya
Karakteristik Novel "Azab dan sengsara" dan
"Belenggu"
UNTUK MEMENUHI TUGAS BAHASA INDONESIA

Judul Novel : Azab dan Sengsara
Karya : Merari Siregar
Penerbit : Balai Pustaka
Angkatan : 20-An
Karya : Merari Siregar
Penerbit : Balai Pustaka
Angkatan : 20-An
Novel AZAB DAN SENGSARA ini merupakan
novel pertama terbitan BALAI PUSTAKA yang pertama sekali, yaitu sekitar tahun
1920. Novel yang bertemakan kawin paksa ini dikarang oleh Merari Siregar.
Sepertinya penulis sangat menonjolkan suatu kesengsaraan dalam karya ini,
sehingga si pembaca dapat terbawa oleh alur cerita ini. Penulis juga mengangkat
adat istiadat yang berlaku di daerahnya.
Karakter Tokoh :
- Mariamin
- Aminu’ddin
- Sutan Baringin (Ayah Mariamin)
- Nuria (Ibu Mariamin)
- Baginda Mulia
- Baginda Diatas (Ayah Aminu’ddin)
- Ibu Aminu’ddin
- Kasibuan
SINOPSIS
Di sebuah kota kecil, Sipirok yang berada di wilayah Tapanuli pada Pegunungan Bukit Barisan terdapat sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu yang sudah janda, bernama Nuriah. Dia memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang gadis, Mariamin yang memiliki paras cantik dan berbudi pekerti halus. Anak kedua laki-laki yang berusia empat tahun. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat Sungai Sipirok. Mereka hidup bertiga penuh kesengsaraan dan kesedihan. Semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan putus asa. Semua permasalahan hidupnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Kisah sedihnya bermula setelah kematian ayahnya Sutan Barigin. Sebelum ayahnya meninggal kehidupan mereka berada dalam kecukupan, tak kurang suatu apa pun. Rumah bagus, sawah yang luas, binatang ternak juga banyak. Semua harta yang banyak itu akhirnya lenyap habis. Harta yang habis itu diakibatkan oleh perilaku Sutan Barigin itu sendiri. Sutan barigin memiliki sifat tamak, rakus, keras kepala, tidak peduli pada istri serta mudah kena hasutan orang lain. Harta warisan yang seharusnya dibagikan kepada saudara yang berbeda nenek yaitu Baginda Mulia, Sutan Barigin tidak mau membaginya. Atas hasutan Marah Sait, Sutan Barigin malah memperkarakannya ke pengadilan. Yang paling keji Sutan Barigin tidak mau mengaku saudara pada Baginda Mulia. Sebenarnya Baginda Mulia mengajak berdamai saja, berapapun harta warisan yang akan diberikan Sutan Barigin kepadanya akan ia terima. Sutan Barigin tetap tidak mau dan ingin memperkarakan saja.
Sidang perkara warisan di gelar di Sipirok, semua biaya ditanggung oleh Sutan Barigin. Sutan Barigin kalah karena Baginda Mulia adalah saudara Barigin dan berhak separuh atas warisan neneknya. Sutan Barigin naik banding lagi ke pengadilan yang lebih tinggi di Padang. Untuk perkara perlu biaya yang besar, sawah dan ternak terjual habis. Yang untung adalah Marah Sait mendapat jatah uang juga dari Sutan Barigin. Sedangkan perkara dimenangkan oleh Baginda Mulia. Perkara dilanjutkan ke Jakarta, biaya lebih besar lagi. Sutan Barigin tetap kalah sampai akhirnya barulah ia sadar dan menyesal tidak mau menerima saran istri dan Baginda Mulia untuk berdamai. Sesal kemudian tidak berguna. Kesengsaraan dan kemalaratan saja yang dierima Sutan Barigin dan anak keluarga ikut menanggung azab dan sengsara. Sampai pada nasib terakhir Sutan Barigin terkena penyakit sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawa orang yang tamak itu.
Kesedihan Mariamin disusul oleh kepergian kekasihnya Aminuddin ke kota Medan, hingga hancurlah semua cita-cita dan harapan yang telah terbina sejak lama. Di Medan Aminuddin bekerja di perkebunan tembakau. Ia mencoba menyurati Mariamin. Bahkan dalam suratnya mengatakan hendak meminang Mariamin untuk dijadikan istrinya.
Aminuddin menyuruh ayahnya agar melamar Mariamin. Tapi ayah Aminuddin malah membawa perempuan lain ke Medan dengan alasan Mariamin bukan jodoh Aminuddin. Pendapat itu bersumber dari seorang dukun yang dimintai pendapat ayah Aminuddin. Dengan sangat terpaksa, kecewa, dan menyesal Aminuddin menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya karena cintanya hanya kepada Mariamin. Rasa bersalah pada Mariamin ia sampaikan lewat surat serta permohonan ma’af kepada keluarganya. Semua itu bukan kehendak Aminudin untuk meninggalkan Mariamin.
Di Sipirok Mariamin menikah dengan Kasibun atas anjuran ibunya. Kasibun seorang laki-laki hidung belang yang mengidap penyakit kelamin. Mariamin di bawa juga ke Medan oleh Kasibun. Di Medan Mariamin sempat bertemu dengan Aminudin. Di Medan pula ia merasakan penyiksaan dari Kasibun karena ia selalu menolak hasrat berahinya. Mariamin takut penyakit Kasibun menular kepadanya.
Tidak kuat dengan siksaan Kasibun, Mariamin pergi meninggalkan Medan dan pulang kembali ke Sipirok. Di Sipirok inilah berakhirnya penderitaan dan kesengsaraan Mariamin. Akhirnya Mariamin meninggal dunia untuk mengakhiri azab dan kesengsaraan di dunia yang fana ini.
(A)Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
1. Menikahkan anak secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua)
Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak
Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu)
Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
4. Kebiasaan minum dan berjudi
Sutan Baringin ayah Mariamin menjadi bangkrut karena kebiasaan berjudi dan minum.
(B) Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
Karakter Tokoh :
- Mariamin
- Aminu’ddin
- Sutan Baringin (Ayah Mariamin)
- Nuria (Ibu Mariamin)
- Baginda Mulia
- Baginda Diatas (Ayah Aminu’ddin)
- Ibu Aminu’ddin
- Kasibuan
SINOPSIS
Di sebuah kota kecil, Sipirok yang berada di wilayah Tapanuli pada Pegunungan Bukit Barisan terdapat sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu yang sudah janda, bernama Nuriah. Dia memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang gadis, Mariamin yang memiliki paras cantik dan berbudi pekerti halus. Anak kedua laki-laki yang berusia empat tahun. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat Sungai Sipirok. Mereka hidup bertiga penuh kesengsaraan dan kesedihan. Semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan putus asa. Semua permasalahan hidupnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Kisah sedihnya bermula setelah kematian ayahnya Sutan Barigin. Sebelum ayahnya meninggal kehidupan mereka berada dalam kecukupan, tak kurang suatu apa pun. Rumah bagus, sawah yang luas, binatang ternak juga banyak. Semua harta yang banyak itu akhirnya lenyap habis. Harta yang habis itu diakibatkan oleh perilaku Sutan Barigin itu sendiri. Sutan barigin memiliki sifat tamak, rakus, keras kepala, tidak peduli pada istri serta mudah kena hasutan orang lain. Harta warisan yang seharusnya dibagikan kepada saudara yang berbeda nenek yaitu Baginda Mulia, Sutan Barigin tidak mau membaginya. Atas hasutan Marah Sait, Sutan Barigin malah memperkarakannya ke pengadilan. Yang paling keji Sutan Barigin tidak mau mengaku saudara pada Baginda Mulia. Sebenarnya Baginda Mulia mengajak berdamai saja, berapapun harta warisan yang akan diberikan Sutan Barigin kepadanya akan ia terima. Sutan Barigin tetap tidak mau dan ingin memperkarakan saja.
Sidang perkara warisan di gelar di Sipirok, semua biaya ditanggung oleh Sutan Barigin. Sutan Barigin kalah karena Baginda Mulia adalah saudara Barigin dan berhak separuh atas warisan neneknya. Sutan Barigin naik banding lagi ke pengadilan yang lebih tinggi di Padang. Untuk perkara perlu biaya yang besar, sawah dan ternak terjual habis. Yang untung adalah Marah Sait mendapat jatah uang juga dari Sutan Barigin. Sedangkan perkara dimenangkan oleh Baginda Mulia. Perkara dilanjutkan ke Jakarta, biaya lebih besar lagi. Sutan Barigin tetap kalah sampai akhirnya barulah ia sadar dan menyesal tidak mau menerima saran istri dan Baginda Mulia untuk berdamai. Sesal kemudian tidak berguna. Kesengsaraan dan kemalaratan saja yang dierima Sutan Barigin dan anak keluarga ikut menanggung azab dan sengsara. Sampai pada nasib terakhir Sutan Barigin terkena penyakit sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawa orang yang tamak itu.
Kesedihan Mariamin disusul oleh kepergian kekasihnya Aminuddin ke kota Medan, hingga hancurlah semua cita-cita dan harapan yang telah terbina sejak lama. Di Medan Aminuddin bekerja di perkebunan tembakau. Ia mencoba menyurati Mariamin. Bahkan dalam suratnya mengatakan hendak meminang Mariamin untuk dijadikan istrinya.
Aminuddin menyuruh ayahnya agar melamar Mariamin. Tapi ayah Aminuddin malah membawa perempuan lain ke Medan dengan alasan Mariamin bukan jodoh Aminuddin. Pendapat itu bersumber dari seorang dukun yang dimintai pendapat ayah Aminuddin. Dengan sangat terpaksa, kecewa, dan menyesal Aminuddin menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya karena cintanya hanya kepada Mariamin. Rasa bersalah pada Mariamin ia sampaikan lewat surat serta permohonan ma’af kepada keluarganya. Semua itu bukan kehendak Aminudin untuk meninggalkan Mariamin.
Di Sipirok Mariamin menikah dengan Kasibun atas anjuran ibunya. Kasibun seorang laki-laki hidung belang yang mengidap penyakit kelamin. Mariamin di bawa juga ke Medan oleh Kasibun. Di Medan Mariamin sempat bertemu dengan Aminudin. Di Medan pula ia merasakan penyiksaan dari Kasibun karena ia selalu menolak hasrat berahinya. Mariamin takut penyakit Kasibun menular kepadanya.
Tidak kuat dengan siksaan Kasibun, Mariamin pergi meninggalkan Medan dan pulang kembali ke Sipirok. Di Sipirok inilah berakhirnya penderitaan dan kesengsaraan Mariamin. Akhirnya Mariamin meninggal dunia untuk mengakhiri azab dan kesengsaraan di dunia yang fana ini.
(A)Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
1. Menikahkan anak secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua)
Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak
Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu)
Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
4. Kebiasaan minum dan berjudi
Sutan Baringin ayah Mariamin menjadi bangkrut karena kebiasaan berjudi dan minum.
(B) Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
1.
Anak sangat berbakti kepada orang tuanya
Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
2. Isteri sangat taat kepada suaminya
Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya.
(C)Karater Tokoh yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
-Mariamin :
seorang gadis yang cantik, lemah lembut, berbakti kepada orang tua dan baik hati. Karakter baik hati dan berbakti kepada orang tua dapat dilihat dari penggalan percakapan, “Makanlah Mak dahulu, nasi sudah masak,” kata Mariamin seraya mengatur makanan dan sajur jang dibawanja sendiri dari gunung untuk ibunja yang sakit itu.
-Aminu’ddin:
Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
2. Isteri sangat taat kepada suaminya
Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya.
(C)Karater Tokoh yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.
-Mariamin :
seorang gadis yang cantik, lemah lembut, berbakti kepada orang tua dan baik hati. Karakter baik hati dan berbakti kepada orang tua dapat dilihat dari penggalan percakapan, “Makanlah Mak dahulu, nasi sudah masak,” kata Mariamin seraya mengatur makanan dan sajur jang dibawanja sendiri dari gunung untuk ibunja yang sakit itu.
-Aminu’ddin:
seorang
anak yang berbudi pekerti luhur sopan santun, suka menolong, berbakti dan
sangat pintar. Berbudi pekerti luhur, jiwa penolng Aminudin dapat dilihat dari
penggalan dialog : “Ia menolong mencangkul sawah Mak Mariamin.. Udin mempunyai
kasihan, itulah sebabnya ia menolong mamaknya.” Mendengar itu, suaminya tinggal
diam; Ia tiada marah mendengar umpatan itu.
-Sutan Baringin :
seorang yang suka membuat masalah dan takabur dengan hartanya. Watak tidak baiknya itu dapat dilihat dari penarasian penulis sebagaimana berikut ini ; Sutan Baringin terbilang hartawan lagi bangsawan seantero penduduk sipirok. Akan tetapi karena ia sangat suka berperkara, maka harta yang banyak itu habis, sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos perkara, akhir-akhir jatuh miskin, sedang yang dicarinya dalam perkara itu tiada seberapa bila dibandingkan dengan kerugian-kerugiannya.
-Nuria:
seorang penyayang dan baik hati. Wujud kasih sayang itu sebagaimana dapat dilihat dari penggalan dialog berikut ini ; “Anakku sudah makan?” bertanya si ibu seraya menarik tangan budak itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.
Baginda Diatas:
seorang kepala kampung atau bangsawan yang kaya raya dan disegani serta dihormati. Hal itu dibuktikan dengan penggalan narasi langsung dari penulis sebagai berikut ; “Dia (Aminudin) adalah anak kepala kampung A. Ayah Aminu’ddin seorang kepala kampung yang terkenal di seantero Sipirok. Harta bendanya sangat banyak”.
-Ibu Aminu’ddin:
mempunyai sifat yang sama seperti suaminya Baginda Diatas, dia juga penyayang.
(D)TEMA
Berkisar masalah adat Dijodohkan oleh orang tua Dan Tidak selamanya kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah harus ada.
-Sutan Baringin :
seorang yang suka membuat masalah dan takabur dengan hartanya. Watak tidak baiknya itu dapat dilihat dari penarasian penulis sebagaimana berikut ini ; Sutan Baringin terbilang hartawan lagi bangsawan seantero penduduk sipirok. Akan tetapi karena ia sangat suka berperkara, maka harta yang banyak itu habis, sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos perkara, akhir-akhir jatuh miskin, sedang yang dicarinya dalam perkara itu tiada seberapa bila dibandingkan dengan kerugian-kerugiannya.
-Nuria:
seorang penyayang dan baik hati. Wujud kasih sayang itu sebagaimana dapat dilihat dari penggalan dialog berikut ini ; “Anakku sudah makan?” bertanya si ibu seraya menarik tangan budak itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.
Baginda Diatas:
seorang kepala kampung atau bangsawan yang kaya raya dan disegani serta dihormati. Hal itu dibuktikan dengan penggalan narasi langsung dari penulis sebagai berikut ; “Dia (Aminudin) adalah anak kepala kampung A. Ayah Aminu’ddin seorang kepala kampung yang terkenal di seantero Sipirok. Harta bendanya sangat banyak”.
-Ibu Aminu’ddin:
mempunyai sifat yang sama seperti suaminya Baginda Diatas, dia juga penyayang.
(D)TEMA
Berkisar masalah adat Dijodohkan oleh orang tua Dan Tidak selamanya kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah harus ada.
Sinopsis dan Watak Tokoh Novel
‘Layar Terkembang’
Pencipta: Sultan Takdir Alisjahbana
Penerbit: Balai Pustaka
Karya: Chandra Sanityo Naratantra
Sinopsis Cerita
‘Layar Terkembang’ adalah sebuah novel Indonesia oleh Sultan Takdir
Alisjahbana. Diterbitkan pada tahun 1936 atau 1937 oleh Balai Pustaka,
menceritakan kisah dua saudara perempuan dan hubungan mereka dengan mahasiswa
Kedokteran. Cerita ini juga berisi himbauan akan perlunya Indonesia untuk
membiasakan budaya dari barat untuk memodernisasi negara.
Tuti dan Maria, putri Raden Wiriatmadja, pergi ke sebuah gedung akuarium pasar
ikan yang dimana mereka bertemu Yusuf, mahasiswa Kedokteran dari Martapura,
Sumatera Selatan. Setelah ia membawa mereka pulang, dia menyadari bahwa dia
telah jatuh cinta untuk Maria. Keesokan harinya, ia bertemu gadis tersebut
dalam perjalanannya ke sekolah dan keluar kota dengan mereka. Dia dan Maria
menjadi semakin dekat, sementara Tuti menyibukkan dirinya dengan membaca dan
menghadiri Kongres pada hak-hak perempuan.
Beberapa
bulan kemudian, Yusuf kembali lebih awal dari liburannya dengan Maria. Namun,
tak lama kemudian Maria jatuh sakit dan didiagnosis dengan malaria. Tuti mulai
merasa perlu untuk dicintai, mengingat Supomo yang pernah mengusulkan
kepadanya. Setelah adik Supomo datang untuk menuntut jawaban, ia mengatakan
tidak. Kondisi tubuh Maria terus memburuk dan dokter mengubah diagnosis mereka
bahwa Maria telah terkena tuberkulosis. Saat dia terletak sekarat di rumah
sakit, Tuti dan Yusuf pergi untuk mengunjungi sepupunya di Sindanglaya, di mana
Tuti menambah pendapat bahwa yang satu tidak perlu tinggal di kota agar dapat
berguna untuk negara. Setelah mereka kembali ke samping tempat tidur Maria,
Maria meminta bahwa mereka menikah satu sama lain.Maria meninggal setelah Tuti
dan Yusuf yang telah menjalin perhubungan yang lebih dekat telah menyetujui.
Tokoh dan Watak
a. Tokoh
|
Tokoh Utama
|
Tokoh Pendukung
|
|
Tuti
|
Ratna
|
|
Maria
|
Saleh
|
|
Yusuf
|
Supomo
|
|
Raden Wiriatmadja
|
Rukamah
|
b. Watak
|
Tokoh
|
Watak
|
|
Tuti
|
Independen, aktif dan lebih modern.
|
|
Maria
|
Mudah kagum, lincah, periang.
|
|
Yusuf
|
Rela berkorban, penuh berperasaan.
|
|
R. Wiriatmadja
|
Teguh agama, baik hati, penyayang.
|
|
Supomo
|
Romantis, saling membantu.
|
|
Ratna
|
Saleh, pecinta alam, penyayang.
|
|
Saleh
|
Setia, pecinta alam.
|
|
Rukamah
|
Baik hati, suka bercanda.
|
Resensi Novel “Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” karya Marah Rusli
Judul Buku
: Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai )
Pengarang
: Marah Rusli
Penerbit
: Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1992
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal
: 271 halaman
Tokoh
: Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman, dan Sultan
Mahmud.
Sinopsis
Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya
masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya.
Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda
Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang
terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari
seorang rentenir bernama Datuk Maringgih.
Pada mulanya usaha perdagangan Baginda
Sulaiman mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir
seperti Datuk Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih
menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Dengan
demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak sanggup
membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang
dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak
berdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap
lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada
Datuk Maringgih.
Menghadapi kenyataan seperti itu
Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya
tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgih.
Siti Nurbaya menangis menghadapi
kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk
Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih
lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia,
Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan
ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan.
Samsulbahri yang berada di Jakata
mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena Siti Nurbaya
mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya.
Pada suatu hari ketika Samsulbahri dalam liburan kembali ke Padang, ia dapat
bertemu empat mata dengan Siti Nurbaya yang telah resmi menjadi istri Datuk
Maringgih. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi
keributan. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya yang tengah terbaring
karena sakit keras. Baginda Sulaiman berusaha bangkit, tetapi akhirnya jatuh
tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir.
Mendengar itu, ayah Samsulbahri, yaitu
Sultan Mahmud yang kebetulan menjadi penghulu kota Padang, malu atas perbuatan
anaknya. Sehingga Samsulbahri harus kembali ke Jakarta dan ia berjanji untuk
tidak kembali lagi kepada keluargannya di Padang. Datuk Maringgih juga tidak
tinggal diam, karena Siti Nurbaya diusirnya.
Siti Nurbaya yang mendengar bahwa
kekasihnya diusir orang tuanya, timbul niatnya untuk pergi menyusul Samsulbahri
ke Jakarta. Tetapi niatnya itu diketahui oleh kaki tangan Datuk Maringih.
Karena itu dengan siasat dan fitnahnya, Datuk Maringgih dengan bantuan kaki
tangannya dapat memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantaraan polisi.
Tak lama kemudian Siti Nurbaya
meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki
tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsulbahri
sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diri. Akan tetapi
mujurlah karena ia tak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidak meneruskan
sekolahnya dan memasuki dinas militer.
Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan
dikota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk
Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim
untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan
Mas segera menyerbu kota Padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam
suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih
jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia sempat membacok kepala Samsulbahri
dengan parangnya.
Samsulbahri alias Letnan Mas segera
dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta
dipertemukan dengan ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum
Samsulbahri sempat bertemu dengan orangtuanya.
Sekilas
tentang penulis dan bukunya

Buku ini diterbitkan pertama kali oleh
Balai Pustaka pada tahu 1922. Buku yang berjudul Siti Nurbaya ini berhasil
menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain yang dianggap
orang sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Modern. Penilaian itu tidak
didasarkan pada temanya, tetapi berdasarkan pemakaian bahasa dan gayanya yang
tersendiri. Buku ini menggunakan bahasa melayu. Oleh karena itu, orang melayu
pasti akan lebih mudah membaca dan segera mengerti isinya. Karena terkenalnya
sampai-sampai zaman itu dinamai zaman Siti Nurbaya. Roman karyanya
ini berhasil pula merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra, yang diberikan
oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969.
Dalam karyanya berjudul Siti Nurbaya, Marah
Rusli ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai
pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Pelaku utamanya pada roman ini
adalah Siti Nurbaya, Samsulbahri, dan Datuk Maringgih.
Membaca roman Siti Nurbaya kita diajak
mengikuti liku-liku kehidupan masyarakat Padang pada masa itu, khususnya kisah
cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia, Siti Nurbaya dan
Samsulbahri
Pengarang, dalam hal ini Marah Rusli
sebagai pemuda terpelajar memiliki pemikiran jauh lebih maju daripada
masyarakat disekitarnya. Ia telah mengenal tata cara hidup dan kebudayaan asing
yang sedikit banyak sangat berpengaruh terhadap jiwanya. Dari dasar itu timbul
gejolak pemberontak ingin menerobos adapt lama yang mengungkung dengan ketat
dan dianggap oleh Marah Rusli sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi.
Marah Rusli ini lahir di Padang pada
tanggal 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung pada tanggal 17 Januari 1968.
Pengarang ini telah menamatkan SD di Padang pada tahun 1904 dan menamatkan
Sekolah Raja (Hoofdenscool) di Bukit Tinggi pada tahun 1910. Setelah tamat
Sekolah Dokter Hewan di Bogor pada tahun 1915, ia diangkat menjadi adjunct
dokter hewan di Sumbawa Besar, kemudian (1916) menjabat Kepala perhewanan di
Bima. Tahun 1918 pindah menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung,
kemudian mengepalai daerah perhewanan di Cirebon. Tahun 1919 menjabat kepala
daerah perhewanan di Blitar, tahun 1920 menjadi asisten leraar Kedokteran Hewan
Bogor, tahun 1921 menjadi dokter hewan di Jakarta, tahun 1925 pindah ke
Tapanuli. Sejak tahun 1929 sampai datang revolusi 1945 menjadi dokter hewan
kotapraja Semarang. Selama revolusi tinggal di Solo, kemudian bekerja pada ALRI
di Tegal. Tahun 1948 diangkat menjadi lektor di Fakultas Dokter Hewan Klaten
dan dalam tahun 1950 kembali ke Semarang. Sejak tahun 1951 menjalani masa
pensiun di Bogor, tetapi masih tetap menyumbangkan tenaganya di Balai
Penelitian Ternak Bogor sampai akhir hayatnya.
Di
samping profesinya sebagai dokter hewan, Marah Rusli terkenal pula sebagai
sastrawan karena romannya yang berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai).
Nilai di dalamnya
Pengarang mengajak kita untuk memetik beberapa nilai moral dari romannya yang terkenal ini, antara lain:
Pengarang mengajak kita untuk memetik beberapa nilai moral dari romannya yang terkenal ini, antara lain:
·
Bila asmara melanda jiwa seseorang maka
luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya cinta. Demikianlah cinta
yang murni tak akan padam sampai mati.
·
Demi orang-orang yang dicintainya
seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya
dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang
tuanya.
·
Bagaimanapun juga praktek lintah darat
merupakan sumber malapetaka bagi kehidupan keluarga.
·
Menjadi orang tua hendaknya lebih
bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu
belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan yang tak terhingga.
·
Dan kebenaran sesungguhnya di atas
segala-galanya.
·
Akhir dari segala kehidupan adalah
mati, tetapi mati jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup.
Analisis Si Jamin dan Si Johan
ANALISIS
1.1. Unsur Intrinsik
A.
Tokoh dan Perwatakan
1)
Jamin
: Baik hati,
penurut, penyabar, rajin, dan jujur
2) Johan : Penurut,pendiam,penyabar
3) Bertes : Keras kepala,berani,mudah terbawa pergaulan
4) Inem : Jahat,berani
5) Mina : Baik hati,ramah,bertanggung jawab
6) Fi : Baik hati
7) Kong Sui : Baik hati,muada dihasut
2) Johan : Penurut,pendiam,penyabar
3) Bertes : Keras kepala,berani,mudah terbawa pergaulan
4) Inem : Jahat,berani
5) Mina : Baik hati,ramah,bertanggung jawab
6) Fi : Baik hati
7) Kong Sui : Baik hati,muada dihasut
B.
Latar atau Setting
1)
Rumah
2)
Pasar baru
3)
Rumah Sakit
C.
Alur
Alur yang digunakan dalam novel si jamin dan si johan ini adalah alur maju
(progresif), hal ini terlihat dari cerita yang berurutan dari mulai ayahnya
yang menikahi ibinya sampai akhirnya jamien meninggal dan johan diasuh oleh
Kong Sui dan Fi.
D.
Tema
Novel karya Merari Siregar ini menceritakan tentang dua bersaudara dalam
menjalani hidup.
E.
Amanat
Persaudaraan yang saling mengasihi adalah hal yang indah dan perlu dijaga. Hal
inilah yang patut kita tiru. Jalani hidup sesuai dengan yang Allah perintahkan
dan apabila kita melakukan salah sebaiknya segera bertaubat karena pertaubatan
yang tulus akan diterima olea Allah.
F.
Sudut Pandang Pengarang
Di
sini pengarang sebagai orang ketiga
Merari
Siregar (1896-1940), penulis Si Jamin dan Si Johan adalah sastrawan Indonesia
yang berasal dari angkatan Balai Pustaka. Setelah meraih ijazah
Handelscorrespondent Bond A di Jakarta, ia bekerja sebagai guru bantu di Medan,
kemudian bekerja di Rumah Sakit Umum Jakarta, dan terakhir di Opium &
Zoutregie Kalianget, Madura.
Sebelum menulis Si Jamin dan Si Johan, Merari Siregar sebelumnya juga telah
cukup dikenal dalam dunia sastra Indonesia dengan novel Azab dan Sengsara yang
merupakan salah satu tonggak kesusastraan Indonesia. Oleh karena itu tidak
heran Si Jamin dan Si Johan memiliki jalan cerita yang tidak kalah menariknya
dengan Azab dan Sengsara. Si Jamin dan Si Johan menceritakan tentang kisah
hidup dua orang anak bernama Jamin dan Johan. Jamin dan Johan adalah anak
dari Bertes dan Mina. Bertes memiliki kelakuan yang kurang baik dari sejak
mudanya. Pada umur dua puluh satu tahun, dia meninggalkan ibunya yang sudah tua
dan janda untuk menjadi serdadu. Bahkan sampai ibunya meninggal pun Bertes
tidak pernah mengirim kabar satu kali pun pada ibunya.
Judul Si Jamin dan Si Jehan yang diambil dan gubahan Justus van Maurik yang
berjudul “Jan Smees’. Judul “Jan Smees” ini terdapat dalam kumpulan cerpen
Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk ‘Dan Kalangan Rakyat’ dengan
subjudul Ainsterdamche Novel/en ‘Novel Amsterdam’ yang terbit tahun 1879.
demikian dinyatakan oleh Teeuw walaupun sebelumnya ía menyatakan bahwa cerita
“Jan Smees” ini berasal dan cerita Oliver West gubahan Char les Dickens.
Pengamat lain, seperti Armijn Pane pun menyatakan bahwa karya Si Jamin dan Si
Johan berasal dari karya sastra Belanda tersebut.
Ide cerita Si Jamin dan Si Johan ialah ajakan untuk menjauhi minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan mental dan kemerosotan bagi kehidupan manusia. Ide cerita itu sejalan dengan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas pemabuk. Walaupun secara umum Belanda berusaha memberantas pemabukan. pemerintah Belanda masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di Glodok, yang merupakan tempat terbuka untuk menjual candu.
Ide cerita Si Jamin dan Si Johan ialah ajakan untuk menjauhi minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan mental dan kemerosotan bagi kehidupan manusia. Ide cerita itu sejalan dengan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas pemabuk. Walaupun secara umum Belanda berusaha memberantas pemabukan. pemerintah Belanda masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di Glodok, yang merupakan tempat terbuka untuk menjual candu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar